Seri Tribun Inspiratif
KAPAN dan di mana, selalu saja ia
berbicara tentang jamu. Hasratnya untuk terus mencari tanaman
berkhasiat yang bisa diolah menjadi jamu, rasanya susah dihentikan.
Jika berkunjung ke suatu daerah, ia pun selalu mencari tahu tanaman
apa yang kerap dijadikan masyarakat setempat untuk menjaga kesehatan
mereka.
Itulah sosok Dr Charles Saerang,
Presiden Direktur PT Njonja Meneer sekaligus Ketua Umum Pengusaha
Jamu Indonesia. Saking ingin membudidayakan sekaligus melestarikan
tanaman berkhasiat menjaga kesehatan, cucu Njonja Meneer itu pun
telah membuat Taman Djamoe Indonesia (TDI) pada 2011 lalu.
Taman Djamu dimaksud berlokasi di
Ungaran, Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Luasnya sekitar tiga
hektare. Sekitar 1.000 jenis tanaman ditanam di taman ini. Taman ini
juga telah berfungsi sebagai lokasi ekowisata.
Di dalam kawasan taman ini juga
disediakan berbagai fasilitas penunjang. Di antaranya Spa Srikaton,
Taman Djamoe Resto, Taman Djamoe Gift Shop, Meneer Corner, dan
Herbaclinic. Juga fasilitas helipad.
“Juga saya lengkapi fasilitas
laboratorium untuk kegiatan penelitian. Sebab dari 30-an ribu jenis
tanaman yang diketahui, baru sekitar 200 jenis tanaman yang kami
ketahui mengandung khasiat menjaga kesehatan dan kami olah menjadi
jamu,” paparnya saat ditemui di Makassar dalam rangka Konvensi
Nasional LIONS Club Indonesia, Kamis (23/5/2013).
Bagi Charles, jamu bukanlah sekedar
minuman tradisional. Melainkan juga warisan leluhur yang wajib dijaga
dan dikembangkan. Karena itu, Gubernur LIONS Club Indonesia periode
2004-2005 ini berharap taman-taman obat atau taman jamu juga bisa
hadir di daerah-daerah lainnya. Termasuk di Sulawesi Selatan.
“Selain bisa sebagai usaha yang bisa
menghasilkan uang yang besar, dengan membuat taman jamu juga berarti
turut membantu menjaga kesehatan masyarakat,” tutur pria yang
menyelesaikan pendidikan S1 dan S2-nya di Amerika Serikat ini.
Menurutnya, kampanye yang baik adalah
mengajak bagaimana mencegah masyarakat sakit. Semisal menjadikan jamu
sebagai bagian gaya hidup masyarakat. Bukan kampanye kesehatan
gratis. Dengan kampanye gaya hidup sehat, diharapkan biaya berobat
bisa diminimalisir.
“Dengan catatan, jamu yang dikonsumsi
haruslah jamu asli alias tanpa sedikit pun campuran zat kimia,”
pesan Charles yang sejak berusia 24 tahun (1976) dipercayakan
mengelola PT Njonja Meneer.
PT Njonja Meneer adalah perusahaan
produsen jamu yang mempekerjakan lebih 3.000 karyawan ini. Produknya
pun kini mencapai 254 merek dan berhasil dipasarkan ke tiga benua:
Asia, Eropa, dan Amerika.
Ejekan Malaysia
Charles Saerang termasuk orang yang
sangat geram dengan maraknya beredar di masyarakat jamu yang telah
dicampur obat-obat kimia. Bukan menjaga kesehatan, jamu kimia itu
sangat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi jika rutin dikonsumsi.
Anehnya, peredaran jamu yang mengandung zat kimia itu sulit
dihentikan.


“Sampai-sampai orang di Malaysia
pernah saya dengar mengatakan jamu asal Indonesia itu adalah jamu
racun. Sebagai pengusaha jamu, saya malu dengan ucapan itu. Hanya
karena ulah pengusaha jamu ilegal, citra jamu kita di luar negeri
buruk,” ujar Charles.
Charles pun mengkritik kurangnya perhatian dan lemahnya perlindungan pemerintah terhadap pengrajin produsen jamu tradisional Indonesia. Jumlah pengusaha jamu tradisional yang bergabung dalam organisasi Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia yang dipimpinnya sebanyak lebih 1.200 orang.
Charles pun mengkritik kurangnya perhatian dan lemahnya perlindungan pemerintah terhadap pengrajin produsen jamu tradisional Indonesia. Jumlah pengusaha jamu tradisional yang bergabung dalam organisasi Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia yang dipimpinnya sebanyak lebih 1.200 orang.
Kini usaha mereka yang memproduksi jamu
asli alias tanpa bahan kimia, kalah bersaing dengan jamu kimia yang
peredarannya dilarang alias ilegal. Apalagi, katanya, banyak orang
lebih suka mengonsumsi jamu yang dirasakan khasiatnya segera terasa
setelah minum jamu.
Padahal jamu yang demikian dicurigai
kuat mengandung bahan kimia. Biasanya bahan kimianya adalah
paracetamol. Ini jelas berbahaya bagi lambung dan hati.
“Sedangkan jamu asli itu kan butuh
proses. Karena fungsinya adalah menjaga kesehatan. Bukan mengobati.
Tapi sekali lagi, kita patut sesalkan karena begitu maraknya
peredaran jamu berbahan kimia. Pelaku jamu ilegal itu terkesan
dibiarkan membodohi masyarakat,” papar pria yang kendati telah
berusia 62 tahun masih terlihat segar dan suka guyon ini. (JM)
Data Diri:
Nama: Dr Charles Saerang
Lahir: Semarang, Jawa Tengah, 20
Februari 1952
Orangtua: Ong Han How alias
Hans Ramana, putra dari Nyonya Meneer
Pendidikan: Formal
1981: Doktor Philosophy Marketing, Kensington University, California, USA
1979: Master of Science, Kensington University California, USA
1976: Sarjana Ilmu Bisnis, Miami University, Ohio
1981: Doktor Philosophy Marketing, Kensington University, California, USA
1979: Master of Science, Kensington University California, USA
1976: Sarjana Ilmu Bisnis, Miami University, Ohio
Istri: dr Lindawati Suryadinata
Anak: Vanessa Kalani dan Claudia Alana
Catatan: Tulisan di atas dimuat di rubrik Tribun Inspiratif halaman 8 Tribun Timur edisi cetakJumat, 24 Mei 2013.
Komentar
Posting Komentar