Cari Makanan Halal di Manado

Danau Linow, Kota Tomohon, Sulut, 22 Agustus 2020


SAAT
ditugaskan ke Kota Manado pada Agustus 2020, saya sempat mengira akan kesulitan mencari makanan halal. 

Sebagai pendatang dan seorang Muslim, anggapan itu terasa wajar. 

Namun, setelah beberapa waktu tinggal di ibu kota Sulawesi Utara tersebut, saya justru menyadari bahwa dugaan itu keliru.

Mencari makanan halal ternyata jauh lebih mudah daripada yang saya bayangkan. 

Bahkan, jika ada sepuluh rumah makan atau kedai yang saya temui, sekitar delapan hingga sembilan di antaranya menyediakan makanan halal. 

Cara paling mudah mengenalinya pun cukup sederhana. 

Jika kasir atau ada pelayan yang mengenakan jilbab, hampir bisa dipastikan rumah makan tersebut menyajikan makanan halal. 

Banyak pula yang memasang stiker atau sertifikat berlabel halal di pintu atau dinding rumah makan.


Danau Linow, Kota Tomohon, Sulut, 22 Agustus 2020


Sebaliknya, rumah makan yang menyajikan makanan non-halal biasanya memasang tulisan 'Ba' atau 'Selera Minahasa' di bagian depan. 

'Ba' merupakan singkatan dari babi. Masyarakat Manado memang terbiasa menyingkat beberapa kata agar lebih mudah diucapkan.

Lalu bagaimana jika menghadiri pesta pernikahan atau hajatan yang diselenggarakan oleh keluarga non-Muslim? Pertanyaan itu juga pernah muncul di benak saya.

Jawabannya membuat saya semakin menghargai masyarakat Sulawesi Utara. 

Mereka memiliki budaya toleransi yang kuat dan menghormati perbedaan keyakinan. 

Karena itu, dalam banyak acara keluarga, tuan rumah biasanya menyediakan dua jenis hidangan: makanan halal dan makanan non-halal.

Menariknya, sebagian masyarakat setempat memiliki istilah khas untuk membedakan keduanya. Makanan halal disebut 'nasional. 

Sedangkan makanan non-halal disebut 'internasional'. Istilah yang unik sekaligus mencerminkan kebiasaan yang sudah dipahami bersama.


Rumah Kopi Tua di Kabupaten Minahasa, 


Tidak hanya makanannya yang dipisahkan, tempat penyajian, peralatan memasak, hingga proses pengolahannya juga dibedakan. 

Mereka memahami bahwa kehalalan makanan tidak hanya ditentukan oleh jenis dagingnya, tetapi juga cara penyembelihan, penggunaan peralatan masak, serta kemungkinan tercampur dengan bahan non-halal.

Saya menduga pemahaman itu tumbuh karena masyarakat Sulawesi Utara sudah lama hidup berdampingan dalam keberagaman. 

Tidak sedikit keluarga yang anggotanya menganut agama berbeda, tetapi tetap tinggal serumah dan saling menghormati.

Saya pernah mengenal satu keluarga di Manado. Suami dan istrinya beragama Kristen Protestan. Sementara dua anak mereka memeluk Islam. 

Di rumah itu, makanan halal dan non-halal dipisahkan agar semua anggota keluarga dapat menjalankan keyakinannya dengan nyaman.

Pengalaman lain yang sangat membekas saya alami saat mampir di rumah kopi di Kota Tomohon, dekat Tugu Dato Tuloliu. 

Berjarak kurang lebih 25 km dari Kota Manado.

Salah satu rumah kopi di Tomohon, 31 Oktober 2021

Saat itu saya memasan kue pia. Lalu penjualnya berkata bahwa pia tersebut mengandung babi.

Saya pun mengurungkan niat membeli. Lalu bertanya kepadanya, "Bagaimana Ibu tahu saya tidak makan makanan non-halal?"

Diiringi senyum, ia menjawab bahwa ia mengenali logat bicara saya sebagai logat pendatang. 

Ia khawatir saya tidak mengetahui isi makanan yang dijualnya, sehingga memilih memberi tahu sejak awal.

Saya pun mengucapkan terima kasih kepadanya. 

Barangkali bagi sebagian orang itu hanya percakapan singkat. 

Namun bagi saya, itulah wujud nyata penghormatan terhadap keyakinan orang lain. 

Ia bisa saja diam dan membiarkan saya membeli dagangannya. Saya tidak bisa menyalahkannya.

Namun ia memilih bersikap jujur karena khawatir saya tidak mengetahui isi makanan yang dijualnya.

Saya memang pulang tanpa membawa pia, tetapi membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: pelajaran tentang menghormati keyakinan orang lain.

Sering kali toleransi dibicarakan dalam pidato, seminar, atau tulisan panjang. 

Padahal, saya menemukannya justru di tempat-tempat yang sederhana: di rumah makan, di meja pesta pernikahan, dan di sebuah kedai kecil yang penjualnya memilih kejujuran daripada keuntungan.

Sejak tinggal di Sulawesi Utara, saya belajar bahwa toleransi bukan sekadar slogan yang dipasang di spanduk atau diucapkan pada hari-hari besar. 

Toleransi hidup dalam kebiasaan sehari-hari dan dalam kesediaan menjaga agar orang lain tetap dapat menjalankan keyakinannya dengan tenang.

Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang membuat saya melihat Sulawesi Utara tidak hanya sebagai daerah kaya wisata alam dan budayanya, tetapi juga sebagai tempat di mana toleransi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, itulah salah satu hal paling indah dimiliki daerah berjuluk Bumi Nyiur Melambai ini. Keren. (*)  


Rumah Kopi Tikala, Manado, 30 Agustus 2020

Komentar