Menengok Kawasan Reruntuhan Benteng Somba Opu





KULIRIK telepon genggam. Rupanya telah menunjukkan pukul 07.50 Wita saat saya dan istri tiba di kawasan reruntuhan Benteng Somba Opu, Minggu, 14 November 2010.

Kawasan ini berada di Jl Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan ini berada di bagian selatan dari Lapangan Karebosi yang menjadi titik nol Kota Makassar. Dari Lapangan Karebosi ke tempat wisata ini bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan bersepeda.

Pagi itu, para pekerja telah sibuk. Beberapa mobil truk silih berganti masuk di kawasan ini. Truk ini mengangkut tanah timbunan dan pasir untuk ditumpahkan di kawasan tersebut. Sebagian lagi pekerja sibuk membuat batako.

Mereka adalah para pekerja PT Wira Mega Wisata, perusahaan milik pengusaha hotel sekaligus Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Provinsi Bali, Zaenal Tayeb. Tak sedikit di antara para pekerja itu datang dari Provinsi Jawa Timur dan Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Para pekerja tersebut sedang sibuk mempersiapkan proyek Gowa Discovery Park (GDP) di kawasan tersebut. GDP dirancang sebagai tempat rekreasi dan wisata bertaraf internasional yang bisa jadi pilihan wisata alam, konservasi alam, wisata keluarga, serta sumber pendidikan.

Mengutip Tribun Timur edisi 19 Oktober lalu, di GDP ini akan hadir taman gajah (Elephant Discovery Park) yang menempati areal seluas 2,3 hektare (ha). Juga ada taman burung (Bird Elephant Park) yang akan diisi berbagai satwa seluas 1,7 ha. Juga akan dibangun wisata air yang terdiri dari waterboom, kolam renang dewasa, dan anak di atas lahan seluas 3 ha.

Selain itu, di kawasan ini akan berdiri bungalow yang akan menjadi tempat peristirahatan bagi pengunjung serta ruang parkir yang lapang. Proyek ini akan menempati lahan sekitar seluas 17 hektare (ha) dari luas total kawasan ini sekitar 150 Proyek ini diperkirakan menelan investasi senilai Rp 45 miliar. Tahun 2012, wahana ini sudah bisa dipergunakan.

Perpaduan
Jadi sebentar lagi kawasan reruntuhan Benteng Somba Opu ini bakal berubah drastis. Saya membayangkan, jika proyek DGP itu telah rampung, maka akan menambah jumlah kunjungan setiap hari di kawasan yang menjadi area tanggungjawab Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan ini. Sebab daya tarik kawasan ini bakal bertambah karena memadukan wisata sejarah dengan wisata modern.

Saya berharap proyek DGP tersebut tidak menjadi bumerang bagi eksistensi kawasan bersejarah ini. Semoga saja kehadiran proyek DGP ini justru makin memberi rasa nyaman, bersih, dan indah di kawasan ini. Saya mengharapkan demikian karena selama ini, kawasan tersebut bagai tak terurus.

Betapa tidak, bangunan-bangunan tak ber-IMB dan dihuni warga banyak berdiri di kawasan ini. Tumpukan sampah juga terlihat bertebaran. Dinding-dinding pada sebagian rumah adat yang dibangun di kawasan ini juga terlihat coret- coretan.

Rumput dan tanaman lainnya juga banyak tumbuh liar di kawasan ini. Jalanan dalam kawasan ini pun juga di sana sini rusak membentuk kubangan-kubangan yang bisa menampung air kala hujan.

Kawasan ini digagas, dikembangkan, dan direvitalisasi pada era Gubernur Sulawesi Selatan yang kala itu dijabat Prof Dr Ahmad Amiruddin (1983-1993). Ahmad Amiruddin juga adalah mantan Rektor Universitas Hasanuddin. Semenjak Ahmad Amiruddin tak lagi menjabat gubernur, pengelolaan kawasan ini bagai tak terurus.

Padahal, kawasan ini sangat baik untuk wisata sejarah dan budaya Sulsel. Di kawasan ini berdiri rumah-rumah adat dari seluruh kabupaten di Sulsel. Saat itu Sulawesi Barat belum memisahkan diri dari Sulsel. Rumah-rumah adat ini berbahan kayu yang tahan lama. Kehadiran rumah-rumah adat itu menjadikan Kawasan Benteng Somba Opu ini ibarat miniatur Sulsel.

Selain rumah-rumah adat, di kawasan ini juga berdiri Baruga Somba Opu yang merupakan replika Istana Kerajaan Gowa semasa kejayaan Benteng Somba Opu. Lokasinya persis disesuaikan dengan letak istana zaman dulu. Bangunan berwarna coklat tua ini berdiri menghadap ke laut atau Utara. Di bagian kiri depan baruga ini berdiri Masjid Ussisa Alaitakwa. Sedangkan di bagian depan baruga, berdiri kokoh Museum Karaeng Patinggalloang.

Keberadaan rumah-rumah adat dan sisa-sisa tembok Benteng Somba Opu yang sebagian masih utuh itu menjadikan kawasan ini layak dikunjungi untuk wisata. Termasuk mereka yang gemar bersepeda. Sebab kawasan ini tergolong rindang.

Masih banyak pohon tumbuh rindang di kawasan ini. Walau mentari telah meninggi, berada di kawasan ini, kita tetap saja merasa sejuk dan bak dipayungi. Sehingga sinar matahari pun tak langsung menerpa tubuh kita.

Tentu saja berwisata ke kawasan ini bakal makin menarik kala proyek Gowa Discovery Park itu rampung.

Ahmad Amiruddin

Yusuf juga menceritakan, pembangunan kembali kawasan ini bermula dari gagasan Prof Dr Ahmad Amiruddin yang kala itu menjabat Gubernur Sulsel (1983-1993). Ahmad Amiruddin juga mantan Rektor Universitas Hasanuddin itu

Tapi cerita tentang proyek pengembangan kawasan tersebut yang mengadopsi semangat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, saya peroleh dari tulisan Thamzil Thahir di Tribun Timur edisi 23 Desember 2009 lalu.

Saat membangunnya di dekade akhir 1980-an, tulis Thamzil, Ahmad Amiruddin menamai kawasan tersebut sebagai Miniatur Sulawesi Selatan. Namun kini lebih akrab dengan Benteng Somba Opu.

Raja Gowa IX
Dari beberapa literatur yang berseliweran di beberapa situs internet, konon Benteng Somba Opu itu dibangun pada abad ke- 15 oleh Raja Gowa IX, Daeng Marante Tupasiri Kallonna. Raja ini berkuasa pada 1550-1650.

Pada masa jayanya, Benteng Somba Opu merupakan pusat pemerintahan, perniagaan, dan pelayaran Kerajaan Gowa. Secara arsitektural, sebagaimana tergambar pada lukisan peta benteng tersebut yang terdapat di Museum Patingalloang, benteng ini awalnya berbentuk persegi empat.

Pada mulanya, benteng ini memiliki panjang sekitar dua kilometer, tinggi 7 hingga 8 meter, dan luasnya sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan benteng dipagari dinding tebal. Ketebalan dinding bervariasi. Rata-rata sekitar dua meter.

Pada 24 Juni 1669, benteng ini dikuasai VOC dan kemudian dihancurkan serdadu Belanda. Kala itu Raja Gowa ke-16, dijabat Sultan Hasanuddin alias I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk Islam, Sultan Hasanuddin mendapat tambah gelar menjadi Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana.

Sultan Hasanuddin lahir 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar pada 12 Juni 1670 dalam usia 39 tahun. Ia kemudian diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh pemerintah RI berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973.

Selain karena dihancurkan serdadu Belanda, sebagian dinding benteng ini diduga banyak hancur karena terendam ombak pasang dari laut dan Sungai Jeneberang beberapa abad lalu. Pada tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuan asal Belanda.

Setelah penemuan itu, Ahmad Amiruddin kemudian melakukan revitalisasi terhadap kawasan benteng tersebut. (jumadi mappanganro)

Komentar