Geliat Kelompok Belajar Perempuan Tupa’biring

AIR laut tampak surut. Matahari memancarkan sinarnya yang bisa ‘membakar’ kulit. Angin bertiup lembut. Beberapa nelayan membersihkan perahunya yang sedang ditambat di pesisir pantai. Beberapa ibu rumah tangga dan anak mereka membersihkan udang di bawah kolong rumahnya. Bau laut pun masih terasa di hidung saat kami tiba di Dusun Kuri Lompo, Selasa siang, 20 September 2011. 

Dusun ini adalah satu dari empat dusun yang ada di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.  Dari Kota Makassar, kami butuh waktu sejam lebih perjalanan dengan mengendarai mobil untuk tiba di dusun yang berada di pesisir pantai ini. Jalan menuju dusun ini yakni Jalan Pette’ne sebagian besar belum beraspal. Hampir sepanjang jalan terdapat banyak kubangan. Sehingga melintas di jalan ini, bagai diayun ombak di laut.


Di rumah inilah Kelompok Belajar Perempuan Tupa'biring belajar bersama. Rumah ini terletak di Dusun Kuri Lompo, Desa Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Foto ini diabadikan pada Selasa, 20 September 2011.


Di dusun yang dihuni 990 jiwa yang terdiri atas 468 laki-laki dan 522 perempuan inilah berdiri Kelompok Belajar Perempuan Tupa’biring (KBPT). Kelompok belajar ini resmi beroperasi 20 Januari 2011 lalu. Kelompok belajar ini merupakan binaan Yayasan Konservasi Laut (YKL) dan Oxfam GB. 


Dari cerita Husna, community organizer (CO) KBPT, awalnya kelompok belajar ini merekrut lebih 30-an peserta belajar. Seiring waktu, kini sisa 27 orang. Mereka yang belajar di kelompok ini lebih 90 persen adalah ibu rumah tanggga. Sekali sepekan mereka belajar bersama di rumah panggung milik Samsul SPd. Samsul adalah Kepala Dusun Kuri Lompo yang juga guru sekolah dasar (SD) setempat. Rumah panggung ini berada tepat di atas pesisir pantai. 


Sebelum tiba di rumah panggung yang menjadi tempat belajar KBPT itu, kami menyempatkan menemui Samsul yang memilih tinggal di rumah dinas guru SD Negeri 80 Kuri Lompo. Jarak rumah dinas Samsul dengan rumah panggung miliknya hanya sekitar 300 meter. 


Dari cerita Husna dan Samsul itulah penulis sedikit tahu tentang KBPT dan perannya memberdayakan sekitar 30-an ibu rumah tangga setempat. Katanya, di KBPT, para perempuan belajar banyak hal. Di antaranya belajar mengenal angka dan abjad latin. Lalu belajar membaca, menulis, berhitung, berorganisasi, demokrasi, maupun perihal gender. 


Jangankan membaca dan menulis, kata Husna, beberapa ibu rumah tangga yang belajar di KBPT itu sebagian memang belum mengetahui abjad. Namun setelah beberapa bulan belajar mengenal huruf, angka, dan cara mengeja, kini sebagian peserta KBPT itu telah mengenal abjad, angka dan mulai bisa mengeja serta perlahan mulai bisa menulis. 


“Ada juga yang peserta yang dulunya hanya bisa jempol sebagai pengganti tandatangan, kini semua peserta KBPT bisa tandatangan. Ini mungkin karena peserta KBPT dibiasakan tandatangan absensi setiap mereka bertemu untuk belajar bersama maupun saat rapat di KBPT,” tutur Husna yang sehari-hari juga bekerja sebagai guru Taman Kanak-kanak (TK) Islam Al Wasi’.


Bukan hanya itu, di KBPT, peserta belajar banyak menimba ilmu tentang beberapa keterampilan usaha yang memanfaatkan potensi. Di antaranya cara beternak itik yang memanfaatkan kolong rumah warga. Juga tentang berkebun cabai dengan memanfaatkan lahan kosong. 


Mereka juga belajar membuat bakso ikan. Cabai yang sudah berbuah di kebun cabai milik Kelompok Belajar Perempuan Tupa'biring di Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu , Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.

Saya makin percaya cerita dari Husna dan Samsul itu setelah berbincang-bincang dengan belasan ibu rumah tangga yang bergabung di KBPT. Perbincangan lebih sejam dengan para perempuan KBPT ini berlangsung di atas rumah panggung yang menjadi tempat KBPT ini belajar bersama. 


Sebelum berbincang-bincang dengan mereka, lebih sejam saya dan Yusran, driver yang mengantar saya ke Dusun Kuri Lompo, menunggu sembari beristirahat di rumah panggung tersebut. Juga menikmati mi siram dan telur masak buatan Husna. 

Beberapa perempuan yang sempat kami ajak berbincang-bincang  mengakui adanya perubahan mendasar yang dialaminya setelah bergabung di KBPT. Di antaranya adalah Husniati yang juga Ketua KBPT. Pascaperceraian dan ditinggal anak untuk selama-lamanya 2010 lalu, membuat wanita berusia 40 tahun ini pun kerap mengurung diri di rumah. 


Kepercayaan diri dan semangat hidupnya pun nyaris rontok. Padahal saat itu, ia masih memiliki tanggungan tiga anak yang belum menikah. Seorang di antaranya masih menempuh pendidikan formal yang masih butuh tanggungan biaya. 


Untunglah keadaan memedihkan itu tak berlangsung lama. Ia kemudian bergabung di KBPT pada Januari 2011 lalu. Di KBPT inilah yang membuat semangat hidup janda empat anak ini kembali bergairah. Di KBPT, perempuan berjilbab ini juga banyak menimba ilmu dari beberapa pengajar yang dilakukan sekali sepekan atau setiap hari Kamis.  


“Seandainya saya tak bergabung di Kelompok Belajar Perempuan Tupa’biring, mungkin saya gila,” kata Husniati dengan wajah ceria saat ditemui di Dusun Kuri Caddi, Selasa, 20 September 2011. (Selengkapnya baca: Husniati: Mungkin Saya Gila)


Selain Husniati, ada juga Jumria (38 tahun) yang suaminya sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek di Desa Nisombalia. Di KBPT, Jumria dipercaya sebagai sekretaris. Ia merasa mengalami beberapa perubahan pada dirinya sejak banyak belajar di KBPT. 


Perubahan mendasar itu di antaranya ia sudah berani keluar rumah menghadiri pertemuan-pertemuan seorang diri. Ia juga tak sungkan lagi bergabung dan berbicara di pertemuan-pertemuan yang dihadiri banyak orang. 

“Saya juga juga tidak malu lagi kalau diundang menghadiri acara-acara yang dilakukan di hotel-hotel dan berbicara di acara tersebut. Saya tak pernah memikirkan sebelumnya akan diundang menghadiri acara-acara di hotel sebelum saya bergabung di Kelompok Belajar Perempuan Tupa’biring,” cerita ibu dua anak ini diiringi tawa kecil.


Lain lagi Hase (45 tahun). Janda yang ditinggal mati suaminya tujuh tahun lalu ini mengaku gairah hidupnya makin bertambah setelah bergabung di KBPT. Apalagi melalui KBPT, ia kini mulai tak gemetaran jika menulis. Hal sama dirasakan Subaedah (50 tahun). Setelah beberapa bulan bergabung di KBPT, Subaedah mengaku sedikit demi sedikit bisa mengeja kata, walau belum lancar. Ia juga mulai tak gemetaran jika menulis maupun tandatangan. 


“Kalau yang saya rasakan terjadi perubahan setelah bergabung di KBPT adalah saya mulai bisa menabung. Kalau dulu saya tidak pernah yang namanya menabung. Saya juga mulai tidak malu bicara,” ujar  Mardina (44 tahun), warga belajar KBPT lainnya, saat ditanya perihal perubahan mendasar yang dialaminya setelah menerima manfaat program KBPT. 


Selain mendengarkan penuturan langsung dari para peserta KBPT dan dari community organizer KBPT, Husna dan Syamsir, saya juga menyempatkan melihat langsung peternakan itik mereka. Peternakan itik kelompok ini berada di bawah kolong rumah yang menjadi tempat belajar bersama KBPT. 

Saya juga sempat diajak mengunjungi kebun yang mereka jadikan lokasi penanaman cabai. Lokasinya berjarak sekitar satu kilometer dari tempat belajar KBPT.Saat saya mengunjungi kebun cabai mereka, tampak beberapa cabai mereka telah berbuah dan bisa dipanen. 


 “Yang masih menjadi masalah kami mengembangkan peternakan itik dan cabai adalah masalah air. Karena pada musim kemarau ini, kami harus beli beberapa jerigen air untuk bisa menyiram cabai dan meminumkan itik-itik kami. Harga sejerigen air Rp 1.000. Dalam sehari, kami bisa menghabiskan, lebih lima jerigen air,” cerita Husna sembari memperlihatkan drum berisi air yang untuk menyiram kebun cabai mereka.


Mendengar penuturan para perempuan tersebut dan melihat peternakan itik serta perkebunan cabai karya mereka, saya menilai keberadaan KBPT sungguh sangat bermanfaat. Karena telah banyak memberdayakan perempuan di dusun tersebut melalui penambahan pengetahuan dan keterampilan. Pun walau beberapa bisnis yang dikembangkan belum secara signifikan meningkatkan kesejahteraan warga belajar KBPT, setidaknya hasil usaha perempuan setempat bisa membantu meringankan beban ekonomi mereka. 


Makanya warga belajar KBPT ini berharap ke depan program-program yang dilaksanakan KBPT bisa makin banyak mengarah pada upaya-upaya peningkatan kapasitas SDM. Juga keterampilan-keterampilan yang bisa menambah pendapatan finansial para perempuan pesisir dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal.  


Juga kelak mereka berharap bisa menemukan solusi dari masalah banyak warga di desa mereka yakni krisis air bersih. Harapan tersebut sesuai kondisi dusun mereka. Di Dusun Kuri Lompo, kata kepala dusun setempat, Syamsul SPd, ada sekitar 80 persen dari total 552 jiwa perempuan tak tahu baca tulis latin. 


Tercatat pula ada 141 kepala keluarga kategori miskin dari total 990 jiwa penduduk di dusun tersebut. Apa yang telah dilakukan KBPT di dusun ini, setidaknya telah memberi jalan mewujudkan harapan itu. 

Setelah merasa cukup mendapat informasi penting dari beberapa warga yang bergabung di KBPT, sore menjelang salat Ashar, kami pamit pulang. Dari dusun pesisir ini, banyak pelajaran yang bisa ditimba dan disebarluaskan kepada masyarakat lainnya, terutama kepada mereka yang hidup di pesisir.  (Jumadi Mappanganro)

 
Makassar, September 2011

Komentar