Menerima Mantan Irjen Mabes TNI

KAMIS siang, 2 Mei 2013. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Makassar sedang demo memeringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Aksi mereka berlangsung di sejumlah sudut Kota Makassar. Aksi mereka pun menimbulkan kemacetan arus lalu lintas di sejumlah jalan utama kota ini.

Saat itulah saya menerima kunjungan Marsekal Madya TNI (Purn) M Basri Sidehabi SIP MBA di Kantor Tribun Timur, Jl Cenderawasih No 430, Makassar. Basri adalah anggota DPR RI dari Partai Golkar yang dilantik sebagai pengganti antar waktu (PAW) Malkan Amin di DPR RI pada  2 April 2013 lalu.

Marsdya TNI (Purn) M Basri Sidehabi SIP MBA di Kantor Tribun Timur, Makassar, Kamis (2/5/2013)



“Jadi hari ini, saya tepat sebulan sebagai anggota DPR. Tapi saya belum terima gaji dari DPR,” ujar mantan Inspektur Jenderal (Irjen) Mabes TNI ini. Ia datang bersama Syarief Amir, mantan Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur.

Basri menceritakan keinginannya berkunjung ke Tribun terbetik saat membaca headline utama halaman pertama Tribun Timur edisi cetak 23 April 2013 lalu. Judul beritanya, Perang Jenderal di Dapil Bugis.

Pada halaman itu, dipajang foto beberapa jenderal purnawirawan TNI yang kini berkiprah sebagai politisi. Basri adalah satu di antara jenderal dimaksud. Mereka diberitakan akan bertarung merebut suara di dapil Bugis untuk lolos ke DPR RI pada Pemilu Legislatif April 2014 mendatang.

“Saya suka judulnya. Menarik,” puji lelaki kelahiran Tironge, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, 1 Januari 1951 ini.

Usai memuji berita headline Tribun, barulah mantan Komandan Sesko TNI AU di Bandung ini menceritakan maksud kedatangannya yang utama. Rupanya, ia ingin menyampaikan hasil resesnya ke beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan yang dilakukan sejak sepekan terakhir atau sejak 24 April 2013. Daerah dimaksud adalah Kabupaten Barru, Soppeng, Wajo, Kota Parepare, Bone, dan Sinjai.

“Di beberapa daerah itu, sekaligus saya ditugaskan menyosialisasikan empat pilar berbangsa dan bernegara. Ini tugas negara dari MPR RI,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI) periode 2008-2012 ini.

Dalam kunjungan itu, Basri juga menyempatkan berdialog sembari menyerap aspirasi para komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sinjai dan KPU Barru. Dari dialog itu, Basri menangkap pesan bahwa para komisioner KPU selalu merasa tak aman bekerja sehingga perlindungan keamanan dan asuransi bagi mereka dianggap sangat penting.

Basri Sidehabi memperlihatkan koran Tribun Timur edisi printi 23 April 2013 yang memuat foto dan berita tentang dirinya. 
Pesawat Tempur
Pada perbincangan kami yang berlangsung hampir sejam itu, Basri juga menyampaikan pendapatnya yang sangat setuju dengan ide agar Indonesia membangun industri pesawat tempur. Ide ini pernah dilontarkan pula Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin selaku Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP).

“Ide agar Indonesia membangun industri pesawat tempur itu sangat baik. Masyarakat Indonesia mestinya mendukung. Ini karena luas udara Indonesia sangat luas dan strategis untuk pertahanan,” paparnya.

Bicara soal pesawat tempur, Basri memang sangat paham. Maklum, ia adalah mantan penerbang lulusan Akademi Angkatan Udara 1974. Ia juga pernah diberi amanah menjabat Wakil Komandan Lanud Iswahyudi dan Komandan Sektor Pertahanan Udara II (Makassar).

Basri adalah satu di antara empat perwira TNI AU yang pertama kali diutus belajar menerbangkan F16 di Amerika Serikat pada 1990-an. Dalam sejarah TNI AU, dia tercatat sebagai putra Bugis pertama yang menjadi penerbang pesawat tempur Fighting Falcon.

Puas melontarkan gagasannya itu, Basri yang purnawirawan sejak Februari 2008 lalu ini pun pamit. Sebelum meninggal kantor Tribun, tak lupa ia memberi saya kartu nama dan nomor telepon selularnya. (JM)




Komentar

Posting Komentar