Mendarat Mulus di Bandara Djalaluddin

Jalan-jalan di Kota Gorontalo (1)


Saat baru tiba di Bandara Djalaluddin Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Kamis (4/7/2013). 
PESAWAT Lion Air yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara Djalaluddin Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Kamis (4/7/2013) sekitar pukul 10.45 wita. Inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di bandara ini. Namun kedatangan saya di Kota Gorontalo ini merupakan kali kedua.

Pertama kali saya ke daerah ini pada 2004 lalu. Kala itu saya mengikuti touring rombongan para bikers Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Makassar melalui darat. Saat itu HDCI Makassar diketuai Andi Tenri Gappa yang akrab disapa Andi Onny.

Dari bandara, butuh waktu sekira sejam mengendarai mobil hingga kami tiba Hotel Mega Zanur. Hotel ini berada di tengah kota. Tepatnya di persimpangan Jalan Kartini dan Jalan Imam Bonjol. Dari depan hotel ini, kita bisa melihat jelas deretan bukit.

Di hotel yang didominasi cat hijau inilah kami menginap. Hotel bintang satu ini memiliki 68 kamar. Terdiri satu suite room, tiga VIP room, 36 deluxe room, dan 28 kamar standart. Tarif hotel di sini mulai Rp 250 ribu hingga Rp 550 ribu. 

Hotel ini rupanya milik Zainuddin, Bupati Bulukumba periode 2011-2016. Sejak menjabat bupati di Provinsi Sulawesi Selatan, pengelolaan hotel berlantai empat ini diserahkan kepada salah seorang anaknya.

Kami menginap di hotel ini karena di sinilah Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Se-Gorontalo dilaksanakan Kopertis IX Sulawesi. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 4-6 Juli 2013. Diikuti puluhan mahasiswa.

EO acara ini mengatakan, Mega Zanur dipilih karena inilah hotel di Gorontalo yang memiliki kamar yang lumayan banyak. Ruang pertemuan pun memadai.

Karena pelatihan jurnalistik inilah saya datang di kota ini. Pada pelatihan ini, saya diundang sebagai pemateri bersama Yusuf Ahmad, Asnawin, Yahya Mustafa, dan Muhammad Arfah. Kesemua pemateri berasal dari Kota Makassar.

Yusuf Ahmad adalah fotografer Reuters. Asnawin adalah Humas Kopertis IX sekaligus pengelola Majalah Cerdas, majalah internal Kopertis IX. Yahya Mustafa adalah dosen Universitas Sawerigading yang juga pengelola Majalah Cerdas.

Sedangkan Arfah adalah wartawan Ujungpandang Ekspres. Tiga nama terakhir di atas sama-sama pernah bergelut di Pedoman Rakyat (PR). PR adalah surat kabar yang pernah terbit di Makassar sejak 1942 hingga 3 Oktober 2007 lalu.

Untuk bisa menghadiri acara ini, saya lebih dulu mengajukan izin cuti. Alhamdulillah, kantor memberi saya cuti tiga hari. (*)

Gorontalo, 5 Juli 2013

Komentar