Naik Bentor Saja di Gorontalo

Jalan-jalan di Kota Gorontalo (3)

Bentor memadati pusat pertokoan di Jl S Parman, Kota Gorontalo, Kamis (4/7/2013) sore.

JUDUL tulisan di atas merupakan saran saja bagi pelancong jika sedang berada di Kota Gorontalo. Kenapa? Karena dengan bentor, sejumlah tempat wisata atau lokasi yang ingin dituju di kota ini bisa segera didatangi.

Apalagi tak susah mencari atau menunggu kedatangan bentor. Di depan hotel, mal, pasar, kantor-kantor pemerintah maupun swasta, selalu dengan mudah kita jumpai bentor. Hampir tak ada sudut kota ini tanpa bentor. Baik saat pagi, siang, sore, maupun malam hari.

Soal tarif? Tak perlu khawatir. Tarif bentor di kota ini relatif murah. Sekali naik untuk satu tujuan dalam kota, penarik bentor biasanya mengenakan tarif antara Rp 3.000-Rp 5.000.

Cara lain, bisa dengan menyewanya hingga 1 hingga 3 jam. Tarifnya antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu. Dengan cara ini, Anda bisa puas diantar berkeliling Kota Gorontalo. Mampir di sana sini boleh saja. Si pengemudi bentor dengan setia menanti.

Cara terakhir inilah yang saya gunakan saat berada di Kota Gorontalo selama tiga hari, 4-6 Juli 2013. Selain bentor, kendaraan umum yang bisa jadi pilihan berkeliling kota ini adalah bendi. Rupanya kendaraan yang mengandalkan tenaga kuda ini masih bertahan di kota ini. Selama di ibu kota Provinsi Gorontalo itu, saya tak pernah melihat mobil bertuliskan taxi berseliweran di jalan-jalan.


Masjid Agung Baiturrahman, Kota Gorontalo, Kamis (4/7/2013) sore.

Pepeng
Saat berada di Kota Gorontalo, saya sempat berkenalan dengan seorang pebentor. Namanya Pepeng Ahmad. Akrabnya disapa Pepeng. Usianya 25 tahun. Ia masih bujangan. Sudah empat tahun terakhir ini bekerja sebagai penarik bentor.

Pepeng-lah yang mengantar saya mengunjungi beberapa tempat di Kota Gorontalo. Dari dialah saya memeroleh sedikit informasi tentang Kota Gorontalo, termasuk tempat-tempat yang ramai dikunjungi wisatawan di kota ini.

Beberapa lokasi yang sempat saya kunjungi itu di antaranya Lapangan Taruna, Pasar Sentral, mal,  Kampus Universitas Negeri Gorontalo, dan pusat pertokoan di Kota Gorontalo. Saya juga sempat diantar mampir di Taman Kota. Taman ini berada di samping Stadion Merdeka Gorontalo.

Di dekat taman ini, beberapa pohon besar nan tua tumbuh rindang. Di taman ini, juga tersedia beberapa permainan ayunan.
Suasana Taman Kota Gorontalo, Kamis (4/7/2013) sore.
Di dekatnya, berderet pedagang kaki lima menjajakan aneka minuman dan makanan. Ada sarabba, kopi susu, teh susu, pisang goreng, dan aneka makan minum lainnya. Para pedagang ini menggunakan tenda payung untuk berjualan.

Kata Pepeng, taman ini adalah satu di antara tempat yang kerap ramai dikunjungi kawula muda Kota Gorontalo pada malam hari. Terutama pada malam Kamis dan malam Minggu. 

Di dekat taman inilah kami memilih duduk di bawah tenda payung sembari menikmati hidangan yang tersedia. Saya memesan cappuchino panas dan pisang goreng. Sedangkan Pepeng memesan sarabba biasa plus sepiring pisang goreng coklat. Harganya? Murah. Berdua, kami hanya bayar Rp 26 ribu. (JM)

Kota Gorontalo, 7 Juli 2013. 

Komentar