Gantala Kuliner Khas Masyarakat Jeneponto

BAGI Anda penggemar kuliner dari daging kuda, berkunjunglah ke Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Apalagi saat Lebaran, momen tepat berburu daging kuda dengan aneka olahan di Jeneponto.

Sebab saban Lebaran, hampir setiap rumah di daerah berjuluk Butta Turatea ini menyediakan aneka makanan berbahan daging kuda. Ada konro, coto, rawon, sate, hingga gantala. 



Setidaknya itulah pengalaman saya bersama istri dan anak-anak saat silaturahmi ke beberapa rumah keluarga istri di Jeneponto selama dua hari, 28-29 Juli 2014.

Di antara jenis makanan olahan daging kuda tersebut, gantala paling sederhana dan mudah dibuat. Karena makanan ini cukup dengan bahan daging kuda dengan bumbu sederhana: garam, kunyit, dan asam.

Cara pembuatannya, cukup daging kuda dimasak hingga matang dengan air dicampur garam, kunyit, dan asam secukupnya. Walau cara pembuatannya sederhana dengan bumbu ala kadarnya, gantala rupanya paling dicari sebagian orang Jeneponto.

“Karena sering dicari, orang asli Jeneponto selalu menyediakan gantala di rumahnya,” ujar Hajjah Rahmatiah (60 tahun), mertua saya, saat kami berkumpul di rumah saudaranya di Kelurahan Ganrang Batu, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Selasa (29/7/2014) pagi.

Kuda Bima
Membeli daging kuda di Jeneponto tak susah. Ke pasar saja. Sebab setiap pasar di wilayah dengan luas 749,79 km2 ini selalu ada pedagang yang berjualan daging kuda. Harganya hampir sama dengan harga daging sapi yakni kisaran Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram.

Sebagian daging kuda itu berasal dari kuda peliharaan warga setempat yang dipotong. Namun umumnya berasal dari kuda-kuda yang didatangkan dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Tepatnya dari Bima dan Kabupaten Sumbawa.

"Kuda-kuda dari NTB itu masuk di Jeneponto melalui pelabuhan yang ada di daerah ini," ujar Daeng Situju, warga Kelurahan Monromonro, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Selasa (29/7/2014) siang.
  
Tak suka
Awalnya saya agak ragu memakan daging kuda. Itu karena mungkin sejak kecil hingga dewasa saya tak pernah diberi makan daging kuda oleh orangtua. Tapi sejak beberapa tahun setelah menikah, saya tak ragu lagi mencicipi daging kuda.

Hal ini karena setiap ke Jeneponto, kampung orangtua istri, saya selalu disajikan makanan dari olahan daging kuda. Awalnya saya tak diberitahukan bahwa daging yang disediakan di meja itu semua daging kuda. Jadi saya santap saja. Saya menyangka daging sapi. Karena melihat teskturnya, sulit dibedakan.

Saya baru sadar bahwa daging yang baru saya santap itu adalah daging kuda setelah diberitahukan oleh istri. Ternyata rasanya pun nyaris serupa. Selanjutnya, selalu rindu menikmati daging kuda saban Lebaran. (JM)





Makassar, 29 Juli 2014

Komentar