Prinsip Wawancara Menurut David Candow

WAWANCARA - Menjadi narasumber di KompasTV Makassar, Kamis 24 Januari 2013. Disiarkan langsung dari lantai 11 Hotel Santika, Makassar. Foto: Dede Farsjad.

 
DALAM melakukan reportase, wartawan dituntut mendapatkan sebanyak mungkin informasi. 

Kenapa? Sebab dengan informasi yang banyak, wartawan dapat leluasa menyajikan berita yang lebih komprehensif, menarik, bernas, dan diharapkan sesuai ekspektasi audiens-nya. 

Nah agar informasi bisa diperoleh lebih banyak, wartawan dituntut memiliki banyak keterampilan. Satu di antaranya adalah keterampilan wawancara.

Andreas Harsono dalam bukunya A9ama Saya adalah Jurnalisme (2010) menyarankan wartawan dalam melakukan wawancara mengikuti prinsip David Candow.

David adalah pelatih jurnalis dari Canadian Broadcasting Corporation.

Prinsip Candow dimaksud di antaranya bahwa seorang wartawan yang baik, dalam melakukan wawancara, bekerja dengan mewakili rasa ingin tahu audiens: pembaca, pemirsa, atau pendengarnya. 


Dia juga harus sopan. Wartawan juga harus siap dengan pemahaman bahan. Dia harus menggali informasi sebanyak mungkin. 

Saat mengajukan pertanyaanm jurnalis tak bernada menghakimi. 

Dia juga tak menunjukkan kesan sudah tahu, sok pamer dan sok pintar.

Hal ini penting dicamkan karena wawancara adalah bagian penting dari reportase dan reportase adalah bagian penting dari jurnalisme. 


Wawancara yang baik akan menghasilkan banyak informasi.

Sementara wawancara yang buruk akan menghasilkan banyak bantahan. Narasumber bisa saja tak menanggapi isi wawancara.  


Prinsip penting yang juga disarankan David Candow adalah menggunakan pertanyaan dengan kalimat pendek atau maksimal 16 kata. 

Mengapa? Karena makin panjang kalimat tanya yang diajukan wartawan, makin menurun kemampuan narasumber mencerna pertanyaan. 

Sebaliknya, makin pendek kalimat pertanyaan, makin mudah si sumber memahami si wartawan.

Candow juga menyarankan agar pertanyaan yang diajukan menggunakan kalimat tanya terbuka dengan kata tanya mewakili unsur 5W 1H: what, who, when, where, why, how.


Sedangkan pertanyaan tertutup menghasilkan jawaban yang kurang memuaskan. 

Sebab pada pertanyaan tertutup, biasanya narasumber menjawab singkat "ya" atau "tidak." (jumadi mappanganro).


Ditulis di Warkop Anggun, 11 Januari 2015

Komentar