Menengok Museum Bali



JIKA berminat wisata ke Pulau Bali, disarankan memasukkan Museum Bali sebagai salah satu daftar tempat yang patut Anda datangi.

Sebab di tempat inilah kita bisa belajar lebih banyak tentang peradaban Pulau 'Seribu Pura' ini.

Museum ini menyimpan aneka peningggalan masa lampau masyarakat Bali sejak era prasejarah hingga pascakemerdekaan RI.


Koleksinya sangat beragam. Antara lain peralatan dan perlengkapan hidup, kesenian, keagamaan, bahasa tulisan dan lain-lainnya yang mencerminkan kehidupan dan perkembangan kebudayaan Bali.

Ke tempat ini tak susah. Sebab berada di pusat kota Denpasar. Tepatnya di Jalan Mayor Wisnu No 1. Berhadapan dengan Lapangan Puputan Badung dan Patung Empat Wajah (Patung Catur Muka).


Dari Bandara Internasional Ngurah Rai ke Museum Bali tak sampai 15 km. Tidak lebih sejam naik kendaraan bermotor.

Langit agak mendung saat saya bersama istri dan dua anak kami tiba di Museum Bali, Jumat (11/11/2016) lalu. Museum ini sudah berusia 85 tahun terhitung sejak didirikan pada 1931.



Dalam kompleks museum ini terdiri empat bangunan utama yakni Gedung Timur, Gedung Tabanan, Gedung Karangasem dan Gedung Buleleng.

Kecuali Gedung Timur yang dibangun belakangan, nama gedung di kompleks Museum Bali menyesuaikan nama daerah dari raja yang membiayai pembangunan gedung tersebut.

Tiap-tiap gedung dibatasi tembok dan terdapat gapura (pintu masuk-keluar).


Pengunjung tak hanya mereka yang ingin melihat koleksi-koleksi yang dimiliki museum ini, tapi juga tak sedikit yang datang khusus untuk pemotretan pra wedding.

Gedung Timur
Gedung ini terdiri dua lantai. Di lantai 1 berisi benda-benda dari masa pra sejarah di Bali. Di antaranya ada arca perwujudan perunggu sebagai media pemujaan, guci, prasasti yang berisi UU dan kotak prasasti (tempat menyimpan prasasti).


Juga ada  patung kinari sebagian hiasan, tempayan yang terbuat dari perunggu sebagai tempat air, beberapa perhiasan manik, gelang dan kalung yang terbuat dari perunggu.

Ada juga kapak dan pahat dari batu, gerabah dan kendi dari tanah liat. Sebagian dari Sembiran, Singaraja, Truyan dan pecatu (Badung)


Di lantai dua, ada radio dan telepon keluaran pertama, senjata laras panjang era Belanda, pistol dan aneka alat perang era kolonial. Juga ada patung arjuna, ketel perunggu, patung kumba karna, patung phalus, patung rangdha, sendi patria sari dan patung Garuda Wisnu.

Gedung Buleleng
Nama gedung ini diambil dari nama Kabupaten Buleleng (Bali Utara) yang mendirikan gedung ini pada 1932 dan disumbangkan ke Museum Bali. Buleleng pernah jadi pusat perekonomian dan pemerintahan di Bali.



Gedung ini menyerupai bentuk pagoda yang lazim berada di pura. Ukuran bangunan sekira 13x13 meter persegi. Koleksinya antara lain patung rambug sedana, uang kepeng yang pernah menjadi alat pembayaran masa lampau dan kemudian digunakan sebagai adat ritual Hindu.

Uang kepeng yang dimiliki Majapahitml meniru model uang kepeng Cina, mata uang Kerajaan Majapahit, Kerajaan Banten hingga Kerajaan Palembang. Ada juga foto-foto hitam putih yang menampilkan wanita Bali masa lampau.


Gedung Karangasem
Gedung ini mengoleksi antara lain aneka seni kerajinan masyarakat Bali seperti lamak nganten, gegaluh yang terbuat dari daun lontar dan penyeneng sebagai sarana persembahan yang terbuat dari daun lontar.

Ada juga Cili sebagai lambang kesuburan pemujaan terhadap Dewi Sri atau Dewi Cili yang  dihubungan dengan sawah atau padi.


Gedung Tabanan
Gedung ini merupakan sumbangan keluarga Puri Tabanan. Arsitektur khas Tabanan ini mewakili Bali Selatan.

Dahulu bangunan ini tempat menyimpan harta istana dan benda seni serta benda-benda sakral. Luasnya sekira 155 meter persegi.

Koleksinya antara aneka keris yang dipakai para punggawa dan pembesar kerajaan di Bali. (jumadi mappanganro)


ptp
Lokasi: Jl Mayor Wisnu No 1, Kota Denpasar, Provinsi Bali
Dibuka: 1931
Buka: Setiap hari: 08.00-16.00 wita. Jumat: 08.30-12.30 wita
Tutup: Hari libur resmi
Provinsi: Bali
Tiket: Dewasa: Rp 10 ribu. Anak-anak: Rp 5.000

Catatan: Tulisan dan sebagian foto-foto di atas dimuat di koran Tribun Timur edisi cetak 22 November 2016


Komentar