Ini 9 Alasan Kenapa Jeneponto Disebut Kota Kuda


Kabupaten Jeneponto dan kuda agaknya sudah identik. Karena keidentikan itulah kabupaten yang memiliki luas wilayah sekira 750 km persegi ini juga dijuluki Kota Kuda.

Berikut 9 alasan yang menguatkan julukan tersebut. 

1. Masyarakat Jeneponto umumnya dikenal gemar makan daging kuda.

Makanya pada setiap pesta pernikahan atau acara syukuran di daerah ini, umumnya si pemilik hajatan menyediakan daging kuda sebagai salah satu menu andalan untuk para tamu. Terutama gantala, makanan khas Jeneponto yang terbuat dari daging kuda.

Kata sebagian orang Jeneponto, pesta tanpa daging kuda di daerah ini belum lengkap. Ibarat sayur tanpa bumbu. Hehehe...

2. Di Jeneponto, orang dengan mudah menemukan warung-warung coto atau rumah makan yang menyediakan makanan olahan dari daging kuda.

3. Umumnya para pedagang coto kuda yang beroperasi di Kota Makassar dan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan berasal dari Jeneponto.

4. Tak sedikit warga di Kabupaten Jeneponto masih memelihara kuda di rumahnya. Ada yang memilihara untuk diternak. 

Sebagian lainnya memelihara kuda untuk membantu petani, terkhusus mengangkut hasil panen mereka. Tapi ada juga memelihara kuda sebagai simbol kemapanan. Ada juga karena hobi berkuda.


5. Di Jeneponto terdapat Pasar Kuda. Tepatnya di Pasar Tolo', Kelurahan Tolo', Kecamatan Kelara. Inilah satu-satunya pasar kuda di Provinsi Sulawesi Selatan.

Namun aktivitas jual beli kuda di pasar ini hanya sekali sepekan yakni saban hari Sabtu. Mulai pagi hingga sore. Ratusan kuda bisa dijumpa di pasar ini.

Harganya bervariasi. Tergantung ukuran dan beratnya. Harga mulai Rp 3,5 juta per ekor hingga belasan juta seekor.

Kuda-kuda yang dijual di sini tak hanya asal Jeneponto. Tapi kebanyakan asal Flores dan NTB. 

Sedangkan pembelinya datang dari berbagai penjuru kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

6. Di Jeneponto juga telah rutin digelar lomba pacuan kuda. Ada lomba yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jeneponto.

Lomba 'resmi' ini hanya digelar setahun sekali yakni setiap jelang hari ulang tahun Kabupaten Jeneponto. HUT Jeneponto diperingati setiap 1 Mei. 

Pada pacuan resmi ini, peserta lomba tak hanya diikuti warga Jeneponto. Tapi juga diikuti peserta dari kabupaten tetangga Jeneponto yakni Kabupaten Bantaeng dan Bulukumba.

Bahkan ada yang datang dari Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.

Ada resmi, ada juga lomba 'tak resmi'. Lomba ini diselenggarakan atas inisiatif warga. 

Ini bisa dilihat di Kampung Beru, Kelurahan Empoang Selatan, Kabupaten Jeneponto. Dilakukan saban akhir pekan.

Namanya saja pacuan kuda tradisional, perlengkapan para penunggang kuda terlihat seadanya. 

Untuk pelindung kepala, sijoki hanya mengenakan helm sepeda motor. Si joki juga tidak memakai sepatu tunggang (boot). Lebih banyak tanpa alas kaki. Pesertanya pun kebanyakan warga setempat.

7. Anak muda Jeneponto umumnya mampu menunggang kuda. 


8. Tepat di pusat kota Kabupaten Jeneponto terdapat patung kuda yang berdiri kokoh. Tepatnya di depan Lapangan Passamaturukang, Empoang, Kecamatan Binamu. 

Lokasinya berhadapan pula dengan Kantor Polres Jeneponto. Juga tak jauh dari Kantor Bupati Jeneponto.

9. Konon pada masa keemasan Kerajaan Gowa, mereka memiliki pasukan berkuda yang disegani. Nah para prajurit dan kuda-kuda yang memperkuat Kerajaan Gowa kala itu berasal dari Jeneponto.

Kesembilan alasan di atas saya rangkum dari beberapa kali berkunjung dan berbincang-bincang dengan sejumlah warga setempat. (JM)

Ditulis di Warkop Anggun, Kabupaten Gowa, 21 Februari 2017

Komentar