Menengok Pasar Kuda di Jeneponto



MATAHARI pagi baru saja menampakkan diri. Suhu di luar rumah masih agak dingin.

Saat itulah saya bersama keluarga meninggalkan rumah menuju Kabupaten Jeneponto. Kala itu, Sabtu 31 Desember 2016.

Kunjungan kali ini dalam rangka menghadiri pesta pernikahan sepupu satu kali istri saya. Agak pagi kami berangkat karena pestanya berlangsung siang.

Di sela-sela menghadiri pesta itu, saya meminta izin ke istri untuk juga jalan-jalan ke pasar kuda. Mumpung antara lokasi pesta pernikahan yang kami datangi tak begitu jauh dari Pasar Kuda. Hanya berjarak sekira 5 km.

Lagi pula saat itu hari Sabtu. Pasar kuda yang kami datangi ini hanya beroperasi saban Sabtu mulai pagi hingga sore.

“Saya sangat penasaran melihat bagaimana itu Pasar Kuda,” kata saya ke Ratna Ariany, wanita yang telah memberiku tiga putra.



Jalan-jalan ke Jeneponto sudah sering saya lakukan. Baik sendiri maupun bersama keluarga. Namun belum sempat menengok pasar kuda.

Barulah jelang detik-detik pergantian tahun 2016 ke 2017 itulah saya bersama istri dan anak-anak menyempatkan ke pasar kuda.

Pasar yang kami datangi ini sebenarnya namanya Pasar Tolo. Namun sebagian area pasar ini dijadikan lokasi jual beli kuda pada setiap hari Sabtu.

Makanya disebut juga Pasar Kuda. Pasar ini berada di Kelurahan Tolo', Kecamatan Kelara. Berjarak sekira 10 km arah utara dari pusat ibu kota Kabupaten Jeneponto.

Kalau dari arah Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kota Makassar, ke pasar kuda ini berjarak kurang lebih 118 km. Waktu tempuh kira-kira 3 jam lebih perjalanan naik mobil.

Pasar Kuda yang kami datangi adalah satu-satunya pasar kuda di Provinsi Sulawesi Selatan. Luas areanya kira-kira setara setengah lapangan sepakbola.

Pasar Kuda di Kelurahan Tolo, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sabtu (31/12/2016)

Lapangannya berpavin blok. Cuma agak bau. Karena kotoran kuda bertebaran hampir memenuhi semua lapangan. Ada yang sudah mengering. Banyak juga yang masih basah.

Ratusan kuda bisa dijumpa di pasar ini. Harganya bervariasi. Tergantung ukuran dan beratnya. Mulai harga Rp 5,5 juta per ekor hingga Rp 20 juta seekor.

Yang menjual kuda, tak hanya orang dewasa. Tapi banyak juga anak-anak yang masih duduk di bangku SD, SMP maupun SMA.

Kuda-kuda yang dijual di sini tak hanya asal Jeneponto. Tapi kebanyakan didatangkan dari Sumbawa, Flores dan Kupang.


Sedangkan pembelinya datang dari berbagai penjuru kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.

Para pembelinya pun kebanyakan pengusaha coto kuda atau konro kuda. Tapi ada juga yang beli untuk dimakan saat pesta atau acara syukuran.

Ada juga membeli kuda untuk diternak dan membantunya mengangkut hasil panen.

Semua transaksi jual beli di pasar ini dicatat petugas yang siaga di loket. Nama pemilik kuda dan pembelinya dicatat. Termasuk bobot kuda.

"Di sini paling ramai orang jualan kuda setiap usai musim panen atau sekitar bulan Mei. Bisa lebih 1.000 kuda dijual di sini,” kata seorang petugas pencatat transaksi jual beli kuda di pasar tersebut.

Area parkir yang berada di bagian luar Pasar Kuda Tolo 

Saran
Saat berkunjung ke pasar ini, kesannya tak terurus. Tak ada tempat parkir yang memadai.

Juga tak ada ruang atau tempat memisahkan antara pengunjung dengan kuda-kuda yang dijual di pasar ini.

Mereka senang melihat kuda yang sangat banyak. Tapi sebagian pengunjung, apalagi anak-anak dan perempuan, khawatir berdekatan langsung dengan kuda. Mereka khawatir jika kuda-kuda itu mengamuk dan menendangnya.

Bukan hanya itu, pengunjung juga agak jijik dengan kotoran-kotoran kuda yang berhamburan di area ini. Perlu dicarikan solusi agar pasar ini tetap bersih dan nyaman dikunjungi.

Warga yang baru ke pasar ini juga kesulitan menemukannya. Papan petunjuk yang menginformasikan lokasi Pasar Kuda tak terlihat di jalan menuju pasar ini.

Padahal keunikan Pasar Kuda ini 'sangat layak dijual' sebagai salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Jeneponto.

Jadi mestinya pasar ini mendapat perhatian khusus pula dari Pemerintah Kabupaten Jeneponto.

Minimal membuat pasar ini bisa menjadi tempat selfie atau groufie anak muda atau para pelancong jika ke Jeneponto. (JM)

Makassar, 21 Februari 2017


  


Komentar