Menginap di Malino, Jalan Rusak dan Pohon Pinus yang Perlahan Berkurang



SEUSAI makan siang, Izzun Ramadhan Mappanganro tiba-tiba meminta sesuatu."Jalan-jalan, Yah." 

Katanya, mama sudah janji. Jika saya datang dari Manado, kami akan jalan-jalan. Wisata tepatnya. Kali ini ia meminta ke Malino.

Tak ingin mengecewakannya, kami pun berangkat. Berlima: saya, istri, Izzun dan dua adiknya, Ilman serta Ihsan. Saat itu sudah jelang sore, Sabtu (15/8/2026).

Malino adalah lokasi wisata andalan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Daerah ini dikenal dengan udara sejuk, hamparan perkebunan dan pepohonan pinusnya.

Dulu, pohon-pohon pinus berdiri di banyak tempat di kawasan ini. Namun, Malino terus tumbuh. Rumah-rumah penduduk semakin banyak. Vila dan penginapan bermunculan. 

Lahan-lahan yang sebelumnya ditumbuhi pepohonan pinus kini semakin banyak dimanfaatkan menjadi kebun dengan tanaman jangka pendek.

Perubahan itu perlahan mengubah wajah Malino. Pohon pinus yang dulu mudah ditemui kini terasa semakin berkurang.

Di sejumlah tempat, masih ada hamparan pinus yang membuat Malino tetap memiliki ciri khasnya. 

Tetapi di tempat lain, pemandangan rumah, vila dan kebun semakin mendominasi.

Mungkin begitulah sebuah kawasan wisata berkembang. Semakin ramai dikunjungi, semakin besar pula kebutuhan ruang untuk tempat tinggal, penginapan, usaha dan sumber penghidupan masyarakat.

Namun, perubahan itu sekaligus menyisakan pertanyaan: sampai kapan kesejukan dan lanskap hijau Malino bisa dipertahankan jika ruang-ruang terbuka terus berubah fungsi?

Pertanyaan itu terlintas dalam perjalanan kami sore itu. Perjalanan yang biasanya kami tempuh sekitar 2 hingga 2,5 jam kali ini terasa jauh lebih lama.

Beberapa kali kendaraan kami harus berhenti dan mengantre akibat sistem buka-tutup jalan. Ada pekerjaan pengecoran badan jalan di sejumlah titik.

Di tempat lain, kami harus memperlambat kendaraan. Lubang-lubang menganga membuat perjalanan tak bisa dilalui dengan leluasa.

Rasanya, setiap kali kami ke Malino, selalu saja kami bertemu jalan rusak. Namun kali ini kondisinya terasa lebih parah.

Jarak rumah kami ke Malino sebenarnya hanya sekitar 80 kilometer. Namun kami baru tiba di Malino sekitar pukul 19.00 Wita. 

Hampir empat jam perjalanan. Sudah termasuk waktu singgah di masjid untuk menunaikan salat Asar dan Magrib.


Setibanya di Malino, kami memilih Iefa Resort Malino sebagai tempat bermalam. Resort ini memiliki 23 kamar. Malam itu, hanya tersisa tiga kamar kosong.

Karena kami berlima, kami memesan dua kamar standar. Kamarnya tidak besar. Kamar mandinya juga berada di luar kamar. Namun bersih. Air pun mengalir otomatis saat digunakan.

Yang paling menyenangkan adalah harganya. Hanya Rp150 ribu per kamar per malam. Bagi kami, harga itu sangat bersahabat.

Meski sederhana, kamar tersebut cukup nyaman. Udara Malino yang dingin membuat suasana semakin nikmat. Anak-anak pun langsung menyukai tempat itu.

Mobil juga bisa diparkir tepat di depan kamar. Iefa Resort ternyata tidak hanya menyediakan kamar. Ada pula area untuk berkemah.

Pengunjung yang ingin camping harus membawa tenda sendiri karena pihak resort tidak menyediakan tenda. 

Tarifnya hanya Rp20 ribu per orang. Area camping dilengkapi toilet yang bersih, kafe, musala dan lampu penerangan.

Resort ini berada di atas bukit dan dikelilingi pepohonan pinus. 

Dari lokasi tersebut, mata kita bisa memandang hamparan sawah, rumah-rumah penduduk serta jalan yang berkelok mengikuti kontur perbukitan.

Malam hari, hawa dinginnya semakin terasa. Jaket wajib dibawa. Kalau ingin lebih nyaman, kaus kaki dan sarung tangan juga sebaiknya ikut masuk tas.

Setelah menaruh barang-barang di kamar, kami keluar mencari makan malam. Kami memilih salah satu kedai di depan gerbang wisata hutan pinus. 


Setelah itu, kami kembali ke penginapan. Pagi harinya, kami sarapan di kantin Iefa Resort. 

Kantinnya buka 24 jam. Harga makanan dan minumannya pun tergolong murah.
  • Teh panas hanya Rp5 ribu
  • Mi siram Rp8 ribu
  • Mi siram plus telur Rp10 ribu
  • Mi goreng plus telur Rp10 ribu
  • Pisang goreng Rp15 ribu 
Izzun dan dua diknya ternyata betah. Mereka bahkan meminta agar liburan ditambah satu malam.

"Tambah satu malam lagi, Yah," ujar Ihsan, si bungsu yang baru duduk di bangku kelas satu SD 

Keinginan itu sebenarnya ingin kami penuhi. Namun, Izzun harus mengikuti kegiatan 17 Agustus di sekolahnya.

Petik Strawberry

Sebelum kembali ke rumah, kami menyempatkan diri mengunjungi kawasan dataran tinggi untuk makan siang. Lokasinya sekitar 7 kilometer dari Iefa Resort.

Di sana tersedia kebun strawberry. Pengunjung juga bisa merasakan pengalaman memetik buah sendiri. 

Untuk masuk di kebun ini, pengunjung dikenakan biaya Rp10 ribu per orang. Sementara harga strawberry yang dipetik Rp10 ribu per ons.

Anak-anak tentu saja senang. Setelah makan siang dan menikmati suasana dataran tinggi, kami pun bersiap pulang.

Perjalanan kembali ke rumah menjadi penutup liburan singkat kami. 

Hanya satu malam di Malino. Tapi saya berharap Izzun dan dua adiknya  bahagia dan menyimpan banyak cerita.






Komentar