SEBELUM duduk di DPRD Sulawesi Utara, Louis Carl Schramm SH MH pernah menggeluti banyak pekerjaan.
Mulai kuli aspal di Balikpapan, sopir bus Kopaja di Jakarta, pegawai bank, 'mata elang' atau penagih hutang, hingga pengacara.
"Saya pernah ditugaskan menarik 3 pesawat di Papua. Penyewanya tak sanggup lagi bayar tunggakan," tutur lelaki yang akrab disapa Lucky ini saat menjadi narasumber Tribun Podcast, Jumat siang 4 September 2026.
Berlangsung hampir sejam di Studio Podcast Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kelurahan Kairagi Dua, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Sulut. Berjarak sekitar 7 km dari Bandara Internasional Sam Ratulangi.
Temanya: Lebih Dekat dengan Legislator Sulut Louis Schramm. Saya bertindak sebagai host.
Dia datang mengenakan sepatu kets hitam dan celana cokelat yang dipadukan kemeja hitam. Di bagian dada kirinya tertulis Harley Davidson 110 th Anniversary.
Sesuai tema acara, Louis pun menceritakan sepenggal perjalanan hidupnya. Dia lahir di Manado pada 22 April 1970. Berarti kini usianya 56 tahun lebih.
Ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Ia menyebut dirinya sebagai orang Borgo.
Ini istilah bagi kelompok keturunan hasil perkawinan campur antara orang Eropa (Spanyo, Portugis dan Belanda) dengan penduduk lokal Minahasa pada abad ke-16.
Masa kecilnya dihabiskan di Pondol, kawasan di sekitar Jalan Sam Ratulangi, Kota Manado. Kini telah banyak berubah seiring perkembangan kawasan Boulevard Manado.
“Besar di tepi pantai. Jadi kehidupan sehari-hari dengan nelayan merupakan bagian dari kehidupan kami waktu kecil yang tinggal di Kampung Pondol,” kenangnya.
Merantau ke Balikpapan
Louis mengenyam pendidikan mulai SD hingga SMA di Frater Don Bosco Manado. Ayahnya bekerja di PT Jiwasraya.
Namun, ketika tiba waktunya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Louis menghadapi kenyataan yang tidak mudah.
Biaya menjadi persoalan. Ia pun memilih merantau ke Balikpapan, Kalimantan Timur, untuk mengadu nasib setamat SMA.
Sekitar dua tahun ia berada di kota tersebut. Ia pun mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang.
“Saya sempat kerja serabutan. Saya sempat jadi kuli jalan yang bikin jalanan di sana,” tuturnya.
Namun, suatu hari Louis berpikir kehidupannya tak boleh berhenti di sana. Jakarta kemudian menjadi tujuan berikutnya. Ia mengumpulkan uang agar bisa berangkat ke ibu kota.
Sesampainya di Jakarta, Louis menumpang tinggal pada kenalan sesama orang Manado bermarga Awondatu.
Untuk bertahan hidup, ia kembali bekerja apa saja. Salah satunya mengantar bunga di kawasan Blok M Jakarta. Ketika orang lain menggunakan sepeda motor, Louis mengayuh sepeda.
“Soalnya tidak ada modal,” ujar Louis yang juga Ketua Partai Gerindra Manado ini.
Dari mengantar bunga, kehidupannya kemudian membawanya ke pekerjaan lain menjadi sopir bus Kopaja.
Kopaja adalah singkatan dari Koperasi Angkutan Jakarta, operator bus yang legendaris di Jakarta.
Ciri khasnya, berwarna hijau-putih. Kini telah diremajakan serta diintegrasikan ke dalam sistem Transjakarta.
Bus yang dikemudikan Louis adalah Kopaja P19 dengan rute Tanah Abang – Ragunan. Pekerjaan itu dijalaninya bukan sekadar untuk bertahan hidup. Ada mimpi lain yang sedang diperjuangkannya.
Louis memberanikan diri mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta. Sebagian biaya kuliahnya dibantu keluarga.
“Sisanya itu dari kerja saya sebagai sopir bus Kopaja,” kenangnya.
Di kampus, ia mahasiswa sekaligus aktivis.Louis bahkan dipercaya menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum hingga Ketua Senat Mahasiswa Universitas Atma Jaya.
Suatu hari, Louis sedang membawa bus Kopaja. Beberapa mahasiswa Atma Jaya naik ke bus yang dikemudikannya.Louis berusaha menyembunyikan wajah dengan topi dan handuk kecil.
Namun usahanya gagal. Ternyata di antara mahasiswa itu ada yang mengenalnya. Identitasnya pun terbongkar.
Ketua senat mahasiswa yang biasa mereka lihat di kampus ternyata juga bekerja sebagai sopir Kopaja.
Louis kemudian diminta meninggalkan pekerjaan tersebut selama menjabat ketua senat. Ia menolak.
“Saya bilang, minta maaf. Sopir bus juga adalah pekerjaan mulia. Saya harus bekerja untuk bayar uang kuliah.”
Teman-temannya bahkan menawarkan bantuan biaya pendidikan. Louis kembali menolak.
“Saya akan lebih bangga kalau saya punya penghasilan sendiri," tegasnya.
Di tengah kesibukan bekerja dan berorganisasi, Louis mengejar beasiswa. Ia berhasil. Beasiswa itu menanggung sekitar 75 persen biaya pendidikannya.
Louis akhirnya menyelesaikan kuliah hukum dalam waktu sekitar tiga setengah tahun.
Menjadi Pengacara
Menjadi pengacara ternyata bukanlah cita-cita Louis sejak kecil. Ia sebenarnya ingin menjadi diplomat dan bertugas di luar negeri.
Namun kehidupan membawanya ke jalan berbeda. Ia memilih Fakultas Hukum karena melihat ilmu hukum bisa sebagai sarana membantu orang lain.
Selepas kuliah, Louis tidak langsung menjadi pengacara. Ia sempat bekerja di bank, perusahaan, NGO hingga multifinance.
Pada akhirnya, ia membuka kantor hukum sendiri. Karier sebagai pengacara membawanya berhadapan dengan beragam persoalan.
Pada masa awal, ia banyak menangani kasus perusahaan dan kredit bermasalah.Bahkan ada pengalaman yang tak biasa: menarik pesawat di Timika, Papua.
Pesawat tersebut disewakan kepada pihak di Papua tetapi pembayarannya bermasalah. Louis dan tim kemudian mendapat tugas melakukan penarikan.
Dua pesawat berhasil ditarik, sementara satu lainnya sudah dalam kondisi rusak.Pekerjaan semacam itu bukannya tanpa risiko.
Ancaman pernah diterimanya ketika menangani penarikan aset, baik di Nusa Tenggara Timur, Gorontalo maupun Manado.
Di Sulawesi Utara, salah satu perkara besar yang pernah ditanganinya adalah kasus kebakaran tempat karaoke Inul Vizta Manado yang menelan korban jiwa.
Kasus tersebut, menurut Louis, akhirnya diselesaikan melalui musyawarah.
Peran Ayah
Di balik perjalanan panjang itu, ada satu sosok yang selalu disebut Louis ketika ditanya siapa orang yang paling memengaruhi kehidupannya. Ayahnya.
“Dia yang mengajarkan saya harus mandiri. Dia mengajarkan saya jangan pernah menyerah untuk mengerjakan sesuatu,” katanya.
Prinsipnya sederhana. Jika mendapat pekerjaan, kerjakan dengan sungguh-sungguh.Jangan mudah menyerah. Setelah berkeluarga, dukungan itu juga datang dari istri dan anaknya.
Nilai-nilai tersebut pula yang kemudian dibawa Louis ketika memasuki dunia yang sama sekali berbeda yakni politik.
Bagi Louis, politik sebenarnya bukan dunia baru. Pada Pemilu 2004, ia pernah mencoba maju sebagai calon anggota legislatif melalui partai lain.
Hasilnya belum sesuai harapan. Ia gagal. Setelah itu Louis memilih mundur dari arena politik selama 20 tahun dan kembali berkonsentrasi pada profesinya sebagai pengacara.
Barulah menjelang Pemilu 2024, pintu politik kembali terbuka. Louis bergabung dengan Partai Gerindra dan maju sebagai calon anggota DPRD Sulawesi Utara dari daerah pemilihan Kota Manado.
Sebelum mengambil keputusan, Louis terlebih dahulu meminta persetujuan keluarganya. Saat itu ia sedang berada di Inggris bersama anaknya.
“Saya bilang, Daddy mau ikut pileg, mau jadi Ketua DPC Kota Manado Partai Gerindra,” kata Lucky.
Istrinya memberikan dukungan. Anaknya pun mengatakan bahwa politik memang menjadi salah satu passion sang ayah.
Louis akhirnya maju. Kali ini hasilnya berbeda dibandingkan 20 tahun sebelumnya.
Ia terpilih menjadi anggota DPRD Sulawesi Utara dari Dapil Sulawesi Utara 1 (Kota Manado) pada Pemilu 2024.
Peraih gelar magister hukum itu memeroleh 3.348 suara dari total 16.422 suara Partai Gerindra yang tersebar di 1.371 TPS di Kota Manado.
Berada di urutan kursi ketujuh dari total kuota 8 kursi di DPRD Sulut daerah pemilihan Kota Manado.
Tujuan Politik
Diakuinya, politik kadang-kadang memang kotor. Namun, menurutnya, politik juga menyediakan ruang untuk melakukan sesuatu dalam skala yang lebih luas yakni menyejahterakan rakyat.
Baginya, keberpihakan tersebut bisa diwujudkan melalui kebijakan yang dibuat pemerintah bersama DPRD.
Perjalanan di parlemen ternyata juga memberinya kejutan. Louis mengaku sempat harus beradaptasi dengan realitas kerja politik di DPRD.
“Saya agak kaget memang. Ternyata dunia politik, dunia parlemen di DPRD, seperti ini," katanya.
Perlahan ia pun belajar menyesuaikan diri. Kini Louis menjabat Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulut.
Ia juga dipercaya menjadi Ketua Pansus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan atau CSR.
Bantu Pekerja Outsourcing
Salah satu pengalaman yang dianggapnya penting selama di DPRD Sulut adalah ketika menerima aspirasi puluhan pekerja outsourcing yang diberhentikan.
Outsourcing atau alih daya adalah praktik menyerahkan sebagian pekerjaan atau operasional perusahaan kepada pihak ketiga atau perusahaan penyedia jasa
Persoalan tersebut kemudian dibawa ke Komisi IV dan dimediasi bersama perusahaan.
Jalan tengah akhirnya ditemukan tanpa harus berlanjut ke pengadilan. Bagi Louis, pengalaman semacam itulah yang menjadi salah satu makna berada di parlemen.
Menjelang akhir podcast, Louis menyampaikan terima kasih kepada warga Kota Manado yang telah memberikan kepercayaan kepadanya hingga bisa duduk di DPRD Sulut.
Ia meminta masyarakat tidak sekadar mendukungnya. Masyarakat juga diminta mengingatkannya.
“Ingatkan saya apabila saya melakukan sesuatu yang tidak seperti yang diharapkan,” katanya.
Louis berjanji berusaha melakukan yang terbaik bagi konstituennya dan Kota Manado.
Siang itu sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan, namun batal saya lontarkan.
Manager Online Tribun Manado Handhika Dawangi melalui earpiece memberitahukan bahwa waktu shalat Jumat sebentar lagi.
Ronald Moha yang bertugas di ruang kontrol juga menyusul memberi kode bahwa waktu podcast sisa 5 menit karena akan Jumatan.
Bincang-bincang dengan Louis Schramm pun kami akhiri.
Di luar studio, Mapanget masih diterpa panas matahari. Suara mengaji dari masjid Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VIII juga telah terdengar.
Pertemuan siang itu diakhiri dengan foto bersama. Turut hadir GM Business Tribun Manado Risdianto Tunandi.
Juga gabung Business Manager Tribun Ternate Abdul Rahman, Manager Content Tribun Gorontalo Aldi Ponge, Handika Dawangi dan Account Executife Tribun Manado Maureen Lumempouw. (jumadi mappanganro)
Tulisan ini juga dimuat di Tribun Manado



Komentar
Posting Komentar