Vick Rays Baule dan Kisahnya di Panggung Teater Sulawesi Utara


NAMANYA Vick Rays Baule.

“Tapi panggil saja Ungke,” katanya saat kami berkenalan, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Dalam budaya Sangihe, Ungke merupakan panggilan kesayangan untuk anak laki-laki.

Sore itu, kami sama-sama menikmati kopi di Kedai Sedjak 2019, Jalan Walanda Maramis, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Kedai ini berada sekitar 190 meter dari gerbang Jalan Roda (Jarod), kawasan wisata kuliner yang terkenal di Manado.

Bangunan kedai tersebut menyimpan cerita. Dahulu, tempat itu merupakan toko sekaligus lokasi cuci foto pada era kamera rol.

Kami memilih duduk dekat jendela depan. Angin sore sesekali masuk. Maklum, Manado dan sejumlah daerah di Sulawesi Utara belum diguyur hujan. Kemarau ekstrem terasa panjang.

Ungke tampil sederhana. Kaos oblong hitam, celana pendek hitam, dan sandal.

Di sampingnya ada tumbler berukuran satu liter. Ada pula sebuah buku bersampul hijau, berupa fotokopian. Gambar Robert Wolter Mongisidi mendominasi sampulnya.

Judulnya Surat dari Sel Maut Robert Wolter Mongisidi, karya Radik Djarwadi. Tebalnya sekitar 80 halaman dan menggunakan ejaan lama.

“Saya harus selalu baca berulang kali buku ini,” kata ayah tiga anak itu.

Buku tersebut bukan sekadar bacaan sore. Ungke dan rekan-rekannya sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan teater kolosal yang mengangkat kisah perjuangan Robert Wolter Mongisidi.

Persiapannya sudah berlangsung sekitar dua bulan. Sekitar 70 orang terlibat. Mereka berasal dari sejumlah sanggar seni di Manado, termasuk unsur dari Kodam XIII/Merdeka.

Pertunjukan itu rencananya dipentaskan pada Festival Budaya Bantik, 5 September 2026. Tempatnya di Taman Pohon Kasih, Kawasan Megamas Manado.

Tanggal tersebut dipilih bukan tanpa alasan. 5 September merupakan tanggal gugurnya Robert Wolter Mongisidi. Ia ditembak mati oleh tentara Belanda di Makassar pada 1949, ketika usianya baru 24 tahun.

Mongisidi merupakan Pahlawan Nasional yang memiliki darah Bantik, salah satu subetnis Minahasa.

Secara kebahasaan, bahasa Bantik masuk dalam rumpun Sangirik, bersama bahasa Sangihe, Sangil, Talaud, dan Ratahan.

Masyarakat Bantik banyak bermukim di wilayah pesisir Manado, Minahasa Selatan, Ratahan hingga Bolaang Mongondow.

Dari Puisi ke Teater

Sore itu, pembicaraan kami kemudian bergeser pada perjalanan hidup Ungke.

Sembari menyeruput kopi dan sesekali mengisap rokok, ia bercerita tentang awal kecintaannya terhadap puisi dan teater.

Vick Rays Baule lahir di Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, 2 April 1980.

Ia bungsu dari empat bersaudara, putra pasangan Theodosius Baule dan Maria Pianaung.

Pendidikan dasar hingga SMA ditempuhnya di Siau, pulau yang berjarak sekitar 146 kilometer dari Manado.

Dari Manado, Siau dapat ditempuh sekitar empat jam menggunakan kapal cepat.

Kecintaannya terhadap puisi tumbuh sejak kelas I SMA.

“Waktu itu saya biasa menulis puisi di buku diary,” kenangnya.

Dari kebiasaan menulis itu, lahirlah dua buku puisi. Buku pertama berjudul Koma, terbit pada 2000. Setahun kemudian, ia menerbitkan Jejak.

Kecintaannya terhadap teater tumbuh dari pengalaman yang sederhana.

Saat masih mengikuti sekolah Minggu, ia beberapa kali tampil dalam drama untuk memeriahkan perayaan Natal di kampungnya.

Namun, dunia teater mulai digelutinya secara lebih serius setelah diterima sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) pada 1998.

Sejak saat itu, panggung seolah menjadi bagian dari hidupnya.

Penghargaan

Pilihan Ungke untuk menekuni teater kemudian membuahkan berbagai prestasi.

Pada 2016, ia tampil di Festival Teater Remaja Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Saat itu Ungke bertindak sebagai sutradara. Ia mementaskan naskah Kata Mati karya Iverdixon Tinungki, sastrawan dan tokoh seni asal Sulawesi Utara. Pernah menjabat Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Utara (DKSU).

Penampilannya bersama rekan-rekan dari Sulawesi Utara menghasilkan lima penghargaan dan membawa mereka menjadi juara umum.

“Saat itu saya terpilih sebagai sutradara terbaik,” tuturnya.

Setahun kemudian, pada Pekan Teater Nasional 2017 di Yogyakarta, Ungke kembali tampil sebagai sutradara.

Ia mementaskan naskah Museum, juga karya Iverdixon Tinungki.

Dalam proses tersebut, ia didampingi langsung oleh Nano Riantiarno, pendiri Teater Koma, serta Nanang Arizona, seniman sekaligus akademisi dan dosen teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Pementasan tersebut bahkan mendapat ulasan khusus dalam Buku Catatan Proses PIN 2017.

Selain itu, Ungke mengoleksi berbagai penghargaan lain, antara lain sutradara terbaik pada sejumlah Festival Teater Sulut, sutradara terbaik Festival Teater Gereja, Sutradara Terbaik Festival Teater Remaja Indonesia, serta Aktor Terbaik Festival Teater Sulut.

Namun, mungkin pencapaian terbesarnya bukan hanya deretan penghargaan.

Sejak 2000 hingga sekarang, Ungke telah menyutradarai dan membina lebih dari 50 pertunjukan teater di Sulawesi Utara dan sejumlah kota besar di Indonesia. Pertunjukan itu mencakup festival teater daerah maupun teater gereja.

Ia juga kerap diundang menjadi juri dalam berbagai festival teater pelajar dan komunitas di Sulawesi Utara.

Sedikitnya 10 sanggar seni milik gereja dan kelompok teater di sejumlah SMA pernah mendapat sentuhan pelatihannya.

Jika dihitung, tidak kurang dari 1.000 orang pernah belajar teater bersamanya.

“Sekarang juga rutin setiap pekan melatih teater di Sanggar Seni SMA Eben Ezer Manado dan membina Manado Teater Holic,” kata warga Kelurahan Bitung Karangria, Kecamatan Tuminting, Kota Manado.

Bagi Ungke, teater bukan sekadar pertunjukan. Ada cerita yang harus disampaikan. Ada tokoh yang harus dikenalkan. Ada sejarah yang perlu dihidupkan kembali.

Itulah sebabnya kini ia berulang kali membaca Surat dari Sel Maut Robert Wolter Mongisidi.

Ia sedang mempersiapkan puluhan orang untuk menghidupkan kembali kisah perjuangan seorang pemuda yang gugur pada usia 24 tahun.

Di atas panggung nanti, sejarah tidak hanya akan dibacakan. Ia akan dimainkan. Ungke berada di belakangnya, memastikan kisah itu sampai kepada penonton.

Aktor Idola

Ketika ditanya siapa aktor idolanya, Ungke menyebut Didi Petet. Sosok dimaksud adalah aktor, komedian, sekaligus sutradara film Indonesia yang meninggal pada 15 Mei 2015 dalam usia 58 tahun.

Ia juga mengidolakan Agustinus Adi Kurdi (22 September 1948–8 Mei 2020).

Adi adalah aktor dan pemain teater nasional yang dikenal luas melalui perannya sebagai Abah dalam serial televisi Keluarga Cemara (1996–2005).

Dari puisi, panggung sekolah Minggu, hingga puluhan pertunjukan teater dan ribuan orang yang pernah dilatihnya, perjalanan Ungke menunjukkan satu hal: ia tidak hanya bermain teater. Ia ikut menjaga agar panggung tetap hidup.

Lewat panggung itu pula, ia ingin cerita tentang manusia, perjuangan, dan sejarah terus diwariskan. (JM)

Catatan: Tulisan di atas lebih awal diposting di tribunmanado.co.id 

Komentar