![]() |
| Rini Indryati Pasaka, Dekan FISIP UNPI Manado |
NAMANYA Rini Indryati Patasaka. Lebih akrab disapa Enci Rini.
Di Sulawesi Utara, 'Enci' merupakan sapaan hormat sekaligus akrab untuk guru atau dosen perempuan. Katanya sapaan ini diadopsi dari sebutan 'Cici' dalam bahasa Mandarin. Artinya kakak perempuan.
Rini adalah dosen sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Indonesia (UNPI) Manado.
Ia lahir 23 Desember 1988 di Desa Taduwale, Kecamatan Damau, Pulau Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
Untuk mencapai kampung halamannya dari Manado, dibutuhkan sekitar 12 jam menggunakan kapal laut menuju Pelabuhan Lirung.
Dilanjutkan sekitar satu jam menggunakan speedboat menuju Pulau Kabaruan.
Bisa juga via udara: Manado - Melonguane, ibu kota Talaud. Waktu tempuh sekitar satu jam. Dari Melonguane naik speedboat lagi ke Pulau Kabaruan.
Bungsu dari dua bersaudara ini menghabiskan masa pendidikan SD hingga SMP di Pulau Kabaruan.
Saat SMA, Rini meninggalkan kampung halaman. Ia melanjutkan pendidikan di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Sebelum 2022, Talaud dan Sangihe tercatat satu wilayah administrasi Kabupaten Sangir Talaud. Ibu kotanya Tahuna.
“Di Tahuna, saya menumpang di rumah tante, kakak dari ibu,” tuturnya ketika menjadi narasumber Tribun Podcast di Studio Tribun Manado, Kamis sore, 24 September 2026. Saya bertindak sebagai host.
Sejak kecil, Rini hobi menyanyi. Ia pernah mengikuti lomba Bintang Radio RRI dan meraih juara tiga tingkat Kabupaten Sangihe.
Setamat SMA, Rini melanjutkan pendidikan ke Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Ia sempat lulus di Jurusan Matematika Unsrat melalui jalur SNMPTN.
Saat itu, Rini bercita-cita menjadi guru matematika. Namun, keinginannya tersebut tidak mendapat persetujuan orangtua.
Rini kemudian kembali mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Kali ini ia diterima di Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Unsrat melalui jalur T2.
Jalur T2 adalah Jalur Mandiri Tumou Tou yakni seleksi mandiri yang diselenggarakan lamgsung Unsrat di luar jalur nasional seperti SNBP dan SNBT. Pilihan itu akhirnya mendapat restu keluarga.
“Sebenarnya saya juga pernah berkeinginan menjadi pendeta,” tutur Rini yang mengaku memiliki darah suku Bugis dari garis kakeknya atau opa.
Sang kakek berasal dari Parepare, Sulawesi Selatan. Ia merantau sebagai pedagang hasil bumi hingga akhirnya menetap dan menikahi perempuan asal Pulau Kabaruan.
“Saya Kristen. Tapi banyak keluarga saya dari garis Opa yang Muslim. Saya biasa juga ikut merayakan Lebaran bersama mereka,” ujarnya diiringi tawa kecil.
![]() |
| Enci Rini jadi narasumber Tribun Podcast |
Albinisme
Rini lahir dengan kondisi albinisme yaitu kondisi genetik yang menyebabkan tubuh memiliki kadar melanin sangat sedikit.
Melanin merupakan pigmen yang berperan memberi warna pada kulit, rambut, dan iris mata.
Karena kondisi tersebut, kulit Rini berwarna sangat terang dan rambutnya tampak pirang alami, bukan karena diwarnai.
Kondisi albinisme juga membuat Rini harus lebih berhati-hati saat beraktivitas di bawah sinar matahari. Kulitnya sensitif terhadap paparan matahari dan kemampuan penglihatannya juga terbatas.
“Untung ada kacamata yang membantu saya bisa melihat lebih baik,” tutur wanita yang masih lajang ini.
Namun, tantangan yang dihadapi Rini bukan hanya persoalan fisik. Sejak kecil, ia beberapa kali menjadi sasaran perundungan karena kondisi albinismenya.
“Masih ada yang menganggap bahwa bertemu orang albino seperti saya adalah soe (sial),” ujarnya.
Stigma tersebut tidak hanya ia rasakan di lingkungan tempat tinggal, tetapi juga pernah dialaminya di sekolah.
Pengalaman itu sempat membuat Rini memilih menarik diri dan menjadi lebih tertutup.
Namun, perlakuan orang lain tidak membuatnya kehilangan semangat untuk belajar.
Sebaliknya, Rini berusaha membuktikan bahwa kondisi fisiknya tidak menjadi penghalang untuk berprestasi.
Dalam pendidikan, ia mampu bersaing dengan teman-temannya dan mencatat hasil akademik yang baik.
Rini kemudian melanjutkan studi hingga meraih gelar Magister Ilmu Pemerintahan dari Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado.
Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak harus menjadi penghalang seseorang untuk menempuh pendidikan dan meraih prestasi.
Kini, Rini dipercaya menjadi Dekan FISIP UNPI Manado.
Stoikisme
Enci Rini mengaku semakin mampu menghadapi stigma maupun komentar negatif dari orang lain.
Hal-hal yang dahulu bisa membuatnya tersinggung atau marah, kini dapat ia hadapi dengan lebih tenang.
Begitu pula ketika menghadapi sejumlah persoalan berat dalam kehidupan.
Salah satu hal yang membantunya adalah kebiasaan membaca buku tentang Stoikisme, aliran filsafat yang berkembang sejak zaman Yunani kuno.
Salah satu gagasan utamanya adalah pentingnya kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kemampuan membedakan hal-hal yang berada dalam kendali seseorang dengan hal-hal yang berada di luar kendalinya.
Seseorang, misalnya, dapat mengendalikan pikiran, tindakan, dan responsnya sendiri.
Namun, seseorang tidak bisa sepenuhnya mengendalikan pendapat orang lain, keadaan di luar dirinya, maupun hasil akhir dari setiap usaha.
Bagi Rini, pemahaman itu perlahan mengubah cara pandangnya dalam menghadapi masalah.
Ia belajar menerima kenyataan yang tidak bisa diubah tanpa harus larut dalam kemarahan atau kekecewaan.
“Jadi, ketika sesuatu yang di luar kendali kita terjadi, saya mulai belajar untuk menerimanya. Itu tidak berarti kita pasrah,” tuturnya.
Bagi Enci Rini, kita mungkin tidak selalu bisa menentukan apa yang dilakukan atau dikatakan orang lain terhadap diri kita.
"Tetapi kita selalu memiliki pilihan tentang bagaimana meresponsnya," ujarnya dengan mimik lebih serius. (Jumadi Mappanganro)


Komentar
Posting Komentar